Ilusi Ekonomi Berbagi Angkutan Online

Demo-Uber-2

Seperti mantra, istilah ekonomi berbagi (sharing economy) menyulap percakapan tentang aksi protes sopir taksi, Selasa pekan lalu, menjadi sekadar masalah teknologi dan inovasi. Tulisan Rhenald Kasali di Kompas, misalnya, menyematkan label-label menggiurkan: inovasi, perubahan, dan adaptasi. Anehnya, tulisan Rhenald sepertinya gagal memahami konsep ekonomi berbagi yang ia sebut berkali-kali. Grab, Uberr, Go-Jek, Airbnb, sampai OLX dan Kaskus, semuanya dicampuradukkan sebagai ekonomi berbagi.

Semua memang sama-sama berbasi teknologi, tapi tumpuan ekonomi berbagi bukanlah soal teknologi. Ekonomi berbagi bertumpu pada bagaimana individu mampu memanfaatkan idle capacity (aset menganggur) dari aset yang ia miliki tanpa kehilangan kepemilikan terhadap aset tersebut.

Baca lebih lanjut

Mengadzani Noragami

noragami

Salah satu anime Musim Gugur 2015, Noragami Aragoto, terhempas kontroversi lantaran memuat soundtrack yang berupa remix adzan. Reaksi warga internet, seperti biasanya, mengandung kadar kemarahan tinggi. Bukan cuma protes yang muncul dalam reaksi ini, tapi juga hinaan dan ancaman membunuh (!). Komentarnya bisa dilihat di [pranala ini]. Di lain sisi, ada yang menganggap reaksi warga internet ini sangat tak perlu. Asumsinya, adzan “cuma bahasa Arab” dan bahkan remix adzan dianggap bisa mempromosikan Islam. Anggapan ini menarik, tapi sebetulnya bermasalah.

Reaksi marah-marah dari warga internet memang tak perlu dimaklumi. Tapi ada dua hal menarik yang bisa ditinjau: 1) kenapa adzan dianggap tak patut untuk digubah sebagai soundtrack ajeb-ajeb seperti di Noragami; 2) dalam sejarahnya, betulkah adzan tak pernah digubah?

Saya kira sudah banyak yang menukil hadis/ayat Qur’an secara sepotong-sepotong untuk menjelaskan kenapa adzan tak pantas masuk jadi soundtrack. Jadi tulisan ini akan coba meminjam perspektif antropologi.

Baca lebih lanjut

Yang Terlupakan dalam Mimpi Khalifah

Hunain bin Ishaq Kekerasan terhadap umat Kristen Timur oleh ISIS barangkali menandakan mereka lupa akan satu hal penting: dalam sejarah kekhalifahan, peradaban Islam tidak akan pernah bisa dibangun tanpa kerja sama dengan umat Kristen. Khususnya pada masa Khulafaur Rasyidin hingga kekhalifahan Abbasiyah yang digadang-gadang sebagai “zaman keemasan Islam”.

Amnesia sejarah ini mungkin berlaku bukan hanya bagi para pejihad ISIS, tapi juga gerakan lain yang memimpikan kekhalifahan seperti Hizbut Tahrir, atau banyak orang yang sering mengagungkan kedigdayaan masa lalu. Di antara tokoh besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, atau Al-Farabi, banyak nama lain yang mungkin tak pernah terbayang dalam imajinasi modern tentang “peradaban Islam”.

Theodore Abu Qurrah misalnya. Namanya sepintas terdengar seperti blasteran Eropa dan Arab. Semakin tidak lazim bila diketahui bahwa Theodore lahir di Edessa, kota yang sekarang dikenal sebagai Sanliurfa (Turki) dan sempat tinggal beberapa tahun di Antiokhia (dulu Suriah, kini Turki) pada abad ke-9 saat kekhalifahan Abbasiyah berkuasa.

Baca lebih lanjut

Mengidolakan Negara, Mempasrahkan Tanggungan

Cheerleading-the-state

Ada satu hal yang barangkali paling membedakan kenaikan harga BBM tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya: respon masyarakat. Pada rezim SBY, kenaikan harga BBM kerapkali ditanggapi dengan pesimisme, kisruh, dan kegundahan. Sekarang, di rezim Jokowi, suara-suara yang berkompromi meredam suara-suara sumbang yang biasanya nyaring menolak alihfungsi subsidi BBM. Padahal kenaikannya tidak tanggung-tanggung, langsung naik Rp2.000—empat kali lipat dari kenaikan di tahun 2013 (Rp500).

Langkah Jokowi memang bisa dibilang, secara politik, strategis. Harga BBM dinaikkan segera setelah Jokowi naik ke tampuk kepresidenan. Masyarakat masih punya tingkat kepercayaan tinggi pada rezim yang baru, hingga tidak timbul terlalu banyak resistensi. Alih-alih yang timbul justru kompromi dan konfirmasi.

Baca lebih lanjut

After Baha’i: In Search of an Alternative Framework for Religion

Framework of Religions 483038_10151103546138581_2110045025_n

The Religious Affairs Ministry’s acknowledgment of the Baha’i faith as an official religion is good news preceding the installment of the new administration. However, there is still much work to be done.

As with any other “non-mainstream” faith, there are many questions as to whether Baha’i deserves to be acknowledged as a “religion”. Recently, for example, Indonesian Ulema Council (MUI) deputy secretary-general KH Tengku Zulkarnain argued that Baha’i was just a system of thought that was not on a par with a religion.

Such an argument is not new, and while the matter seems pedantic, it could bring serious consequences to those who profess the faith. Though formally guaranteed by the Constitution, believers of faiths outside the six official religions have faced difficulties expressing their piety.

The Baduy people who believe in Sunda Wiwitan, a local religion, have been denied identity cards as their faith is not recognized by the state. Similarly, the believers of the Parmalim faith around Lake Toba in North Sumatra must choose to acknowledge either Islam or Christianity.

While there are different approaches to this problem, the start would be to take a critical look at how the government defines religion.
Baca lebih lanjut

Pekerjaan Rumah Berdemokrasi dari Melody JKT48

Twit Melody

Di tengah hingar-bingar pilpres dan yang berlanjut sesudahnya, media sosial selalu punya cerita sendiri. Sehari sebelum pemilihan, Melody Nurramdhani, personil kelompok idola JKT48, membuat para penggemarnya mengernyitkan dahi. Di Instagram, Melody menyukai salah satu foto yang diunggah akun Partai Gerindra. Malamnya, di Twitter dia mencuit, “kangen jaman Pak Soeharto dan Pak Abdurrahman Wahid.”

Reaksi penggemarnya beragam. Banyak yang mempertanyakan apa maksud sang idola, tapi tidak sedikit juga yang langsung mengkritik, mengaitkan dengan dukungan Melody pada salah satu capres. Selazimnya hal lain yang tersebar di media sosial, jumlah pengkritik pun bertambah ketika ia dibicarakan bukan lagi hanya oleh penggemarnya, tapi juga banyak pengguna internet lain. Salah satu cuitan mencibir, “dear capitalist’s fabricated dolls… you don’t know shit about jaman soeharto.”

Cuitan seorang artis sehari persis sebelum pemilu mungkin bukan hal luar biasa, tapi bagi JKT48 ceritanya sedikit lain: kelompok idola ini terkenal akan interaksi timbal-balik dengan penggemarnya—dari sekedar membalas cuitan hingga menerima kado dari penggemar dan bertukar salam—yang membuat grup ini cukup merambah popularitas terutama di kalangan pengguna internet muda.

Memang, esok pagi setelah cuitan sial itu, jejaknya sudah hilang dari linimasa Melody.

Baca lebih lanjut

Seragam Nazi dan Ke[tidak]terkaitannya dengan Kebutaan Sejarah

IMG-20140705-01566

Apa pun yang mendasari keputusan Ahmad Dhani untuk mengenakan seragam Schutzstaffel (organisasi paramiliter di masa Nazi) pada video klip dukungan kepada Prabowo-Hatta rasanya sama sekali tidak bisa dibilang bagus. Yang paling jelas, ini jadi cedera sendiri untuk kubu Prabowo. Prabowo punya rapor merah di bidang HAM, dan sudah banyak yang mencap dahi sang mantan jendral dengan label “fasis”–terlepas dari seberapa bermanfaatnya istilah ini. Kedua, dan ini yang lebih saya sesali, yang tidak berkaitan pun jadi kena imbasnya.

Saya pikir dari semua tulisan soal video Dhani, tulisan di TIME ini paling bisa memuat sari dari pokok-pokok yang saya maksud. Satu kalimat di tulisan itu menyebutkan bahwa ketertarikan terhadap fashion Nazi ini lumrah di Asia, selumrah foto Che di sablonan kaos oblong, dan sebagai contohnya, penulis menyebut soal kembali dibukanya Soldaten Kaffee, kafe tematik Perang Dunia II yang sempat ramai disorot tahun lalu karena menyematkan atribut Nazi. Komentar-komentar kemudian berseliweran–suasananya mirip seperti saat setahun lalu “kafe Nazi” di Bandung ini menjangkau Jerusalem Post–banyak yang mengkritik perilaku orang Indonesia yang seperti ini sebagai “tidak mendapatkan pendidikan yang cukup” dan/atau “buta sejarah dunia”.

Masalahnya, apa betul kegemaran terhadap atribut Nazi terkait dengan kurangnya pendidikan atau kebutaan sejarah?

Baca lebih lanjut

Kenapa Membungkus Miku dalam Sayembara Online?

Paling tidak hampir sebulan ini saya melihat grasak-grusuk yang terus beredar di lingkar otaku sekitar saya perihal konser Miku Expo 2014. Kisah pendeknya kira-kira begini: dari paruh akhir tahun 2013 lalu, diadakan sayembara online untuk memutuskan di kota manakah konser Miku bakal digelar tahun 2014. Prosesnya sederhana: isi saja formulir yang sudah disediakan (yang mencantumkan domisili negara), kemudian kirim. Kiriman Anda, yang memuat informasi negara, akan menentukan di mana Miku akan menggelar konsernya.

Kalangan otaku di Indonesia nampak begitu antusias, dan mengingat popularitas Miku beserta jajaran Vocaloid-nya, hal ini tak begitu mengherankan. Jadilah, berdasarkan hasil pengiriman, akhirnya diputuskan MikuExpo 2014 bakal diselenggarakan di Jakarta pada 29 Mei 2014.

Masalahnya kemudian, begitu harga tiket diumumkan, rupanya cukup banyak suara yang keberatan – harganya ternyata kurang sesuai dengan kocek. Alhasil banyak yang mengeluh, “lebih baik menonton dari YouTube saja!”

tulisan-miku2-komik-cyu

Situasinya kurang lebih dipersepsikan seperti ini.

Baca lebih lanjut

Valentine

st-valentineTiap pertengahan Februari begini, sewaktu saya masih rajin mengikuti buletin Hizbut Tahrir yang dibagikan tiap hari Jum’at, saya kadang bertanya-tanya kenapa bahasan sejarah Hari Valentine selalu punya porsi yang nyaris satu lembar di buletin yang tebalnya cuma dua lembar itu (sudah termasuk iklan).

Buletin Hizbut Tahrir bukan satu-satunya – di internet juga tidak sulit menemukan media dakwah online semacam, katakanlah, VOA Islam atau EraMuslim, yang mendedikasikan tulisannya untuk mengupas kejahilan Valentine melalui riwayatnya. Ada yang mengatribusikannya ke “budaya pagan”, ada yang mengatribusikan ke martirnya seorang Santo di abad ke-4, ada yang mengatribusikan ke kisah cinta pendeta di abad pertengahan, dan lain-lain. Riwayat itu hampir selalu menjadi sebab mengapa Valentine merupakan nubuat buruk bagi umat Islam.

Dari dulu saya masih bertanya-tanya apa sejarah beratus tahun lalu itu juga masih dipedulikan oleh orang yang berpartisipasi pada Hari Valentine. Baru belakangan saya paham apa signifikansinya.

Baca lebih lanjut

Tentang Soldatenkaffee dalam The Jakarta Globe

Mungkin saya termasuk salah satu di antara sebagian orang yang gusar sewaktu mendengar kabar bahwa Soldatenkaffee ditutup. Selama seminggu terakhir, banyak kicauan dan komentar bernada miring yang keluar dari warga internet mengenai Soldatenkaffee ini; dari kecaman soal etika hingga tudingan bahwa si pemilik kafe “buta sejarah” dan “idiot”.

Memang Soldatenkaffee ini cukup mencolok karena membawa tema yang tidak biasa: memorabilia militer Jerman dan atribut Nazi di saat Perang Dunia II.

Saya sendiri sudah dengar tentang kafe ini kira-kira sekitar satu setengah tahun lalu, sewaktu ada teman yang berkunjung. Aslinya saya biasa saja; tidak begitu heran kalau ada kafe seperti ini di Bandung, berhubung dulu sempat beberapa kali dapat e-mail dari komunitas peminat serupa sewaktu masih rajin menggeluti seluk-beluk PD II dan pernak-pernik Nazi, dan kedua, ya sekarang sudah tidak begitu berminat lagi, jadi semangatnya sudah tidak sebesar dulu.

Yang mengusik saya adalah sebab si pemilik kafe terpaksa menutup bisnisnya yang sudah berjalan dari 2011:  “tekanan media internasional” dan “protes dan ancaman”. Memang tidak main-main – Soldatenkaffee ini betulan diliput oleh HuffingtonPostLeMonde, dan JerusalemPost.

Selidik punya selidik, gara-garanya konon datang dari sepucuk artikel besutan The Jakarta Globe, “Bandung Cafe’s Nazi-Kitsch Theme Sparks Some Uncomfortable Questions“. Selang berapa hari setelah liputan itu terbit, liputan serupa dengan nada yang lebih tendensius juga terbit di media internasional.

Selang lima hari, Soldatenkaffee ditutup.

Baca lebih lanjut